a.
Pemeriksaan Motilitas Hasil Inseminasi Buatan
Berbantuan Komputer
Gambar 1. Computer Assisted Semen Analysis (CASA)
Semen
adalah sekresi kelamin jantan dan epididimis serta kelenjar- kelenjar kelamin
pelengkap (kelenjar vesikularis) yang terdiri dari spermatozoa dan plasma semen
yang secara normal diejakulasi ke dalam saluran kelamin betina sewaktu
kopulasi, tetapi dapat pula ditampung dengan berbagai cara untuk keperluan
inseminasi buatan. Spermatozoa adalah sel atau benih yang berasal dari sistem
reproduksi jantan, sedangkan plasma adalah air mani yang digunakan oleh
spermatozoa untuk tetap bergerak. Fungsi utama plasma semen adalah sebagai
medium pembawa spermatozoa dari saluran reproduksi hewan jantan ke dalam
saluran reproduksi hewan betina. Fungsi ini dapat dijalankan dengan baik karena
pada banyak spesies plasma semen mengandung bahan-bahan penyangga dan makanan
sebagai sumber energi bagi spermatozoa, baik yang dapat dipergunakan secara
langsung (misalnya fruktosa dan sorbitol) maupun secara tidak langsung misalnya
Gliserilfosforil Colin (GPC). Faktor-faktor
yang mempengaruhi kualitas semen di antaranya umur, bangsa ternak, genetik,
lingkungan, dan pakan. Spermatozoa terdiri dari kepala yang membawa materi
herediter paternal dan ekor yang mengandung sarana penggerak (Husni, 2017).
Sperma
dalam suatu kelompok mempunyai kecenderungan untuk bergerak bersama-sama ke
satu arah yang menyerupai gelombang yang tebal dan tipis, bergerak cepat dan
lamban tergantung dari spermatozoa hidup di dalamnya. Gerakan massa spermatozoa
dapat dilihat jelas di bawah mikroskop dengan pembesaran (10x10) dan cahaya
yang kurang. Berdasarkan penilaian gerakan massa, kualitas semen dapat di
tentukan sebagai berikut:
a. Sangat baik
(+++), terlihat gelombang-gelombang besar, banyak, gelap, tebal, dan aktif
bagaikan gumpalan awan hitam saat akan turun hujan yang bergerak cepat
berpindah-pindah tempat.
b. Baik (++), bila
telihat gelombang-gelombang kecil, tipis, jarang, kurang jelas dan bergerak
lamban.
c. Lumayan (+),
jika tidak terlihat gelombang melainkan hanya gerakan-gerakan individual aktif
progresif.
d. Buruk (N, necrospermia
atau 0), bila hanya sedikit atau tidak ada gerakan-gerakan induvindual. Pada
umumnya yang terbaik adalah pergerakan progresif atau gerakan aktif maju
kedepan. Gerakan maju dan mundur merupakan tanda cold shock atau
media yang tidak isotonik dengan semen. Gerakan berayun atau berputar di tempat
biasanya tarjadi pada semen yang tua, jika semen tidak bergerak maka dianggap
mati
Penilaian
dinyatakan dalam persentase sel spermatozoa yang gerak maju (motil progresif) terhadap
keseluruhan jumlah sel spermatozoa serta gerak individu sperma sebagaimana
ditetapkan dalam standar mutu semen beku sapi SNI 01-4869.1-2005 dan semen beku
kerbau SNI 01-4869.2-2005: 0 (spermatozoa
immotile atau tidak bergerak); 1 (gerakan berputar di tempat); 2 (gerakan
berayun atau melingkar, kurang dari 50% bergerak progresif dan tidak ada
gelombang); 3 (antara 50% sampai 80% spermatozoa bergerak progresif dan menghasilkan
gerakan massa); 4 (pergerakan progresif yang gesit dan segera membentuk
gelombang dengan 90% sperma motil); 5 (gerakan yang sangat progresif, gelombang
yang sangat cepat menunjukan 100% motil aktif). Motilitas spermatozoa di bawah
40% menunjukan nilai semen yang kurang baik karena kebanyakan persentase yang
fertil itu 50-80% spermatozoa yang motil aktif progresif (Jiyanto, 2011).
Pemanfaatan
teknologi pemisahan spermatozoa X dan Y atau lebih sering disebut sexing
sperm telah menjadi alternatif yang tepat dalam aplikasi inseminasi buatan (IB)
terkait upaya peningkatan efisiensi reproduksi dan peningkatan efisiensi usaha peternakan.
Sexing merupakan upaya untuk mengubah proporsi alamiah spermatozoa X dan
Y (50% banding 50%) menjadi proporsi yang
diinginkan dengan menggunakan metode tertentu. Prinsip metode ini adalah
membuat medium yang berbeda konsentrasinya, sehingga spermatozoa yang
motilitasnya tinggi (Y) akan mampu menembus konsentrasi medium yang lebih
pekat, sedangkan spermatozoa X akan tetap berada pada medium yang mempunyai
konsentrasi rendah. Jenis spermatozoa X dan Y diketahui dengan cara mengukur
panjang dan lebar kepala spermatozoa, yaitu spermatozoa diamati di bawah mikroskop
dengan perbesaran kuat (objektif 40x), kemudian dilakukan pemotretan. Secara
acak, sebanyak 200 sel (per lapang pandang) spermatozoa hasil pemotretan diukur
panjang dan lebar bagian kepalanya menggunakan micrometer dan image
raster pada perangkat lunak
optilabpro. Total hasil pengukuran (panjang x lebar) digunakan untuk mengetahui
hubungan antara ukuran panjang dan lebar kepala dengan luas kepala spermatozoa
(LKS), dihitung menggunakan metoda integral Riemann. Ukuran kepala spermatozoa
yang lebih besar dari rerata di identifikasi sebagai spermatozoa X, sedangkan
ukuran kepala yang lebih kecil dari rerata diidentifikasi sebagai spermatozoa Y
(Takdir dkk., 2017).
Sperma
yang hidup dapat diketahui dengan pengecatan atau pewarnaan dengan menggunakan
eosin. Eosin dapat dibuat dari serbuk eosin yang dilarutkan dalam aquadest
dengan konsentrasi 1:9. Kemudian sperma ditetesi dengan larutan eosin dan
diratakan, kemudian di angin-anginkan atau di fiksasi dengan menggunakan
spiritus, setelah itu dilihat di bawah mikroskop. Sperma yang tercat atau
berwarna merah berarti sperma itu mati, sedangkan yang tidak terwarnai atau
tidak tercat berarti sperma itu hidup. Perbedaan afinitas zat warna antara
sel-sel sperma yang mati dan yang hidup digunakan untuk melindungi jumlah
sperma hidup secara objektif pada waktu semen segar dicampur dengan zat warna
(eosin 2%). Sel-sel sperma yang hidup tidak atau sedikit sekali menghisap warna
sedangkan yang mati akan mengambil warna karena permeabilitas dinding meningkat
sewaktu mati. Tujuan pewarnaan diferensial adalah untuk mengetahui persentase
sel-sel sperma yang mati dan yang hidup (Salmah, 2014).
b.
Pemeriksaan Genetik dalam Kandungan Produk Hasil
Ternak
Program breeding
untuk kualitas daging dapat dilakukan melalui identifikasi polimorfisme
pada sekuen-sekuen DNA yang berdampak terhadap karakteristik. Pendekatan
genomik fungsional adalah analisis proteome sebagai usaha menemukan karakteristik
protein yang diekspresikan dalam setiap tipe sel. Dengan teknik ini,
sifat-sifat suatu organisme akhirnya dimanifestasikan melalui interaksi
lingkungan dengan protein-protein yang diekspresikan dalam jaringan-jaringan
yang structural, enzimatik, metabolik dan regulatori, misalnya asosiasi antara
keempukan beef dan genotipe calpastatin. Region kromosom yang
menunjukkan polimorfisme dalam sekuen asam nukleat dapat digunakan untuk
mendeteksi sifat-sifat kuantitatif [QTL], seperti keempukan, laju pertumbuhan
dan lemak intramuskular. Misalnya lokasi-lokasi kromosomal gen-gen yang
mempengaruhi keempukan, marbling,
karakteristik karkas, pertumbuhan dan yang mempengaruhi WBSF (Soeparno, 2012).
Pemeriksaan karakteristik karkas juga dilakukan dengan tebal Longissimus dorsi dan Rump diukur menggunakan alat ultrasonografi
model Veterinary Ultrasound Scanner tipe WED-3000V dengan frekuensi 6.5
Hz dan kedalaman 130 mm untuk mengetahui kualitas karkas. Pencitraan tebal
lemak punggung dan tebal otot Longissimus dorsi dilakukan pada posisi tulang
rusuk ke 12, dua pertiga dari medial ke sisi lateral dan pengukuran tebal otot
rump diantara tulang ischium dan illium (Alwiyah, 2016; Pratiwi,
2016).
Gambar 2. Pemeriksaan USG dalam LD (Alwiyah, 2016; Pratiwi,
2016)
Seleksi
keunggulan genetik melalui identifikasi gen yang diprediksi berasosiasi kuat
dengan sifat produksi dan kualitas susu akan sangat mendukung bagi program
perbaikan sapi FH domestik, salah satu gen yang mempengaruhi kualitas susu
adalah gen kappa kasein. Gen kappa kasein memilki tiga bentuk genotipe yaitu
AA, AB, dan BB (Firmansyah, 2010). Sampel
yang digunakan sebagai sumber DNA diambil dari sel darah. Ektraksi DNA dilakukan kurang lebih 5 ml sampel darah yang diektrasi untuk diambil DNA-nya.
Setiap sampel darah dimasukkan
kedalam tabung falcon,
disentrifugasi 3500 rpm selama 10 menit
sehingga terbentuk tiga lapisan yaitu plasma darah, buffy coat (lapisan sel darah putih berinti) dan sel darah merah. 2 µl 50
ng sampel DNA, 0,25 µl 50 ng primer kappa-kasein (κ-kasein), primer forward (F)
dengan runutan DNA 5’AAA TCC CTA CCA TCA ATA CC dan 0,25 µl primer reverse (R)
dengan runutan DNA 5’ CTT CTT TGA TGT CTC CTT AG, 1,25 µl 15 mM MgCl2,
1 µl 2 mM dNTPs dan 0,25 µl 4 Unit AmpliTaq gold DNA polimerase dan ditambah
7,75 µl milique water steril sampai total volume 12,75 µl. Tabung tersebut dimasukkan
kedalam mesin PCR dengan program proses denaturasi 94oC selama 10
menit, proses denaturasi pada 940C selama 30 detik, diikuti dengan
proses annealing (penggabungan kembali) pada suhu 55oC selama
30 detik dan proses ektensi pada suhu 72oC selama 1 menit. Seluruh
proses pada tahap 2 dilakukan dengan 40 X ulangan. Tahap 3, ektensi tambahan
pada suhu 72oC selama 15 menit. Analisa PCR-RFLP dilakukan dengan cara
produk PCR, dipotong dengan enzim restriksi Pst I. Sebanyak 4 µl DNA produk
PCR, 0,5 µl 5 Unit Pst I, 0,5 µl 10x low buffer dimasukkan ke dalam 0,5
ml eppendorf, ditambah milique water steril sampai volume total 10 µl,
dan inkubasi pada suhu 37oC selama 1 jam. Elekroforesis dilakukan
pada gel PAGE 1% dengan 200 Volt, selama 60 menit dan pewarnaan dengan perak
nitrat selama 20 menit. Frekuensi genotipe κ-kasein dihitung dengan cara
menisbahkan jumlah sapi dengan genotipe tertentu terhadap jumlah total ketiga
genotipe (AA, AB, dan BB) (Diwyanto
dkk., 2015).
Dadih
memiliki bakteri asam laktat yang berbeda di tiap-tiap daerah dan dapat
diidentifikasi dengan menggunakan 16S rRNA. Analisis data sequence
dilakukan menggunakan program software DNA star. Untuk analisa sequence
alignment, dilakukan dengan membandingkansequencing yang
diperoleh (query) dengan yang telah ada pada Gene Bank dengan
data base searches NCBI internet site (http//www.ncbi.nlm.nih.gov) menggunakan
BLAST (Basic Local Alignment Search Tool), selanjutnya untuk
melihat kekerabatannya dilanjutkan dengan Clustal W (Purwati, 2017). Perbandingan
metode ekstraksi DNA menggunakan sampel susu semakin diteliti dan dibandingkan
agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas DNA. Metode ekstraksi DNA yang
dianggap efektif dan efisien dapat menghasilkan konsentrasi tinggi, biaya
relatif murah, jangka waktu singkat, sampel mudah diperoleh serta menggunakan
bahan kimia dan bervolume sedikit. Metode ekstraksi DNA yang digunakan untuk
mengisolasi susu adalah phenol-chloroform,
salting out dan komersial KIT. Metode
Ekstraksi DNA PhenolChloroform dari segi harga paling murah jika dibandingkan
dengan metode ekstraksi lainnya, tetapi membutuhkan waktu yang lama dan larutan
yang digunakan merupakan penghambat PCR. Metode Salting Out merupakan
metode yang tidak mengandung larutan penghambat PCR, mudah digunakan, dan
membutuhkan harga yang relatif lebih murah. Metode Komersial KIT membutuhkan
waktu yang lebih cepat dan lebih mudah digunakan, tetapi relatif lebih mahal. Ekstraksi
DNA dilakukan menggunakan produk komersial KIT (Geneaid) prosedur fresh
blood (Kamaliah, 2018).
Prasetyo
(2015) mengidentifikasi gen eterotoksin dan exolatif isolat Staphylococcus aureus asal susu sapi dan
kambing dengan menggunakan mesin GeneAmpR PCR system
2400. Denaturasi
awal selama 5 menit pada suhu 940C diikuti dengan 940C selama 30 detik
untuk denaturasi, 500-600 C selama 45 detik untuk penempelan primer
(annealing), 720C selama 1 menit untuk pemanjangan (elongation);
amplifikasi dilakukan sebanyak 35 siklus kemudian diakhiri 5 menit pada 720
C. DNA total
hasil ekstraksi digunakan sebagai DNA cetakan untuk proses amplifikasi. Komposisi 50 µl
campuran pereaksi PCR terdiri atas 2,5 mM MgCl2, 10 mM dNTPs, 100-300 ng DNA
cetakan, 20-100 pmol masing-masing primer dan 2 U Taq polymerase beserta buffernya.
Produk hasil PCR dideteksi dengan cara dimigrasikan pada gel agarose 1,5% dengan
menggunakan buffer 1xTBE dalam peranti Submarine Gel Electrophoresis (Hoefer, USA).
Pengamatan dilakukan dengan bantuan sinar UV (λ = 300 nm) setelah gel
diwarnai dengan cybersave (Invitrogen, USA). Penanda DNA dengan ukuran
100 pb digunakan
sebagai petunjuk berat molekul. 2 isolat memberikan hasil positif
terhadap amplifikasi
gen sea, seb, dan eta. Hasil positif tersebut ditandai dengan munculnya fragmen
DNA dengan
panjang spesifik (121 bp) untuk sea, 477 bp untuk seb, 119 bp untuk eta, baik
pada susu sapi
maupun susu kambing. Sekitar 50% galur S. aureus memproduksi enterotoksin yang dapat
menimbulkan keracunan makanan pada manusia. Exfoliatif dikenal sebagai
epidermolitik toksin dan merupakan salah satu faktor virulensi dari S. Aureus.
Selain itu juga merupakan protein serin yang memiliki spesifisitas substrat
tinggi yang selektif mengenali dan menghidrolisis protein desmosomal pada
lapisan permukaan
kulit. Exfoliatif A dan exfoliatif B secara langsung bertanggung jawab untuk
manifestasi klinis
sindrom kulit terbakar staphylococcal
(SSSS). Adapun isolat yang memberikan hasil negatif (fragmen tidak muncul) adalah
amplifikasi gen etb untuk susu sapi dan susu kambing. Hal tersebut mengindikasikan
bahwa pada kedua isolat S. aureus tidak memproduksi exfoliatifm khususnya etb. S.
aureus yang dapat menghasilkan enterotoksin hanya sekitar 30%. Enterotoksin
yang dilepaskan ke makanan berisiko menyebabkan keracunan makanan (food
intoxication) pada konsumen. Terdapatnya S. aureus dalam jumlah besar pada makanan tidak berarti
bahwa enterotoksin dihasilkan. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi enterotoksin,
antara lain jenis makanan, nilai pH (enterotoksin sedikit dihasilkan pada pH di
bawah 5.0), suhu (suhu optimum produksi enterotoksin 37°C, namun rentang suhu
cukup lebar), keberadaan oksigen (produksi enterotoksin buruk pada kondisi
anaerob) dan keberadaan mikroorganisme lain yang dapat menghambat pertumbuhan S.
aureus.
Gambar
3. Hasil
Elektroforesis Gen Enterotoksin dan Exolatif pada Susu Sapi dan Kambing
(Prasetyo, 2015)
c. Formulasi Ransum
Metode Trial and Error
merupakan metode penyusunan ransum yang dilakukan dengan menggunakan bantuan
program Microsoft Excel. Prinsip dari metode ini adalah melakukan coba-coba
guna mendapatkan nilai nutrient dari ransum yang seuai dengan kebutuhan atau
keinginan yang telah ditentukan sebelumnya. Hal yang harus diketahui sebelum
penyusunan ransum dengan menggunakan metode Trial and Error ini adalah
komposisi kimia dari semua bahan pakan yang akan digunakan dalam ransum.
Komposisi kimia harus diketahui secara detail, mulai dari kandungan energi,
kandungan protein kasar, hingga kandungan mineral dalam bahan pakan tersebut.
Apabila seluruh kandungan bahan pakan tersebut sudah diketahui maka langkah
selanjutnya adalah membuat presentasi dari masingmasing bahan pakan yang akan
digunakan tersebut. Apabila hasil presentase belum sesuai dengan kebutuhan
nutrient yang diinginkan maka presentase tersebut dapat diubah-ubah hingga
diperoleh nilai yang sesuai dengan jumlah nutrient yang diinginkan, namun
demikian proses dalam mengubah presntase bahan tetap harus memperhatikan
penggunaan maksimum dan minimum bahan pakan tersebut dalam suatu ransum
(Zakariah, 2016). WinFeed membuat formula ransum dengan harga termurah untuk
ternak ruminansia dan non ruminansia melalui 2 metode: Linear Feed Formulation
dan Stochastic Feed Formulation (Suharti, 2008).
Gambar
4. Aplikasi WINFEED untuk Pakan
(Google.com, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
Alwiyah. 2016. Identifikasi Keragaman Gen DGAT1 dan SCD serta Asosiasinya terhadap Kualitas Karkas Sapi Bali. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Diwyanto, K., C. Sumantri, R.R.A. Maheswari, A. Anggraeni dan A. Farajallah. 2005. Pengaruh Genotipe Kappa Kasein (k-Kasein) terhadap Kualitas Susu Pada Sapi Perah FH di BPTU Baturraden. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Departemen Pertanian. Bogor
Firmansyah, F. 2010. Performa Produksi dan Kualitas Susu Sapi FH pada Laktasi, Waktu Pemerahan dan Genotipe Kappa Kasein (κ-Kasein) Berbeda di Lembang Bandung. Skripsi. Departemen Ilmu Teknologi dan Produksi Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor
Husni, M. 2017. Hubungan Antara Motilitas dan Pola Pergerakan Spermatozoa Semen Segar Sapi Bali Jantan. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Makassar
Jiyanto. 2011. Motilitas Dan Mortalitas Spermatozoa Sapi Bali yang Diencerkan dengan Pengencer Kuning Telur pada Volume Pengenceran yang Berbeda di BIBD Tuah Sakato Payakumbuh. Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pekanbaru
Jiyanto. 2011. Motilitas Dan Mortalitas Spermatozoa Sapi Bali yang Diencerkan dengan Pengencer Kuning Telur pada Volume Pengenceran yang Berbeda di BIBD Tuah Sakato Payakumbuh. Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pekanbaru
Kamaliah. 2018. Modifikasi Metode Ekstraksi DNA pada Susu Pasteurisasi. Bioleuser vol. 2(1): 20-23
Prasetyo, B. 2015. Identifikasi Gen Enterotoksin dan Exfoliatif Isolat Staphylococcus aureus Asal Susu Sapi Perah dan Susu Kambing dari Bogor. Jurnal Matematika, Sains dan Teknologi vol. 16(2): 50-59
Pratiwi, N. 2016. Analisis Keragaman Gen Kalpastatin (CAST) dan Kalpain-1 (CAPN1) terhadap Karakteristik Karkas dan Daging Sapi Bali. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Purwati, E. 2017. Diversifikasi Produk Dadih Halal Asal Susu Kerbau Sumatera Barat Menunjang Kesehatan dan Ekonomi Rakyat. Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Padang
Salmah, N. 2014. Motilitas, Persentase Hidup dan Abnormalitas Spermatozoa Semen Beku Sapi Bali pada Pengencer Andromed dan Tris Kuning Telur. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Makassar
Soeparno. 2012. Ilmu dan Teknologi Daging. Edisi Kedua. Gadjah Mada Press. Yogyakarta
Suharti, S. 2008. Aplikasi Win Feed dalam Formulasi Formulasi Ransum Ternak. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor. Bogor
Takdir, M., Ismaya dan S. Bintara. 2017. Proporsi X-Y, Viabilitas dan Motilitas Spermatozoa Domba Sesudah Pemisahan dengan Putih Telur. Buletin Peternakan vol. 41 (1): 1-7
Zakariah, M.A. 2016. Teknologi dan Fabrikasi Pakan. Pusaka Almaida. Makassar




Komentar
Posting Komentar