Langsung ke konten utama

Mengenal Kelinci Hias-Pedaging

    Kelinci merupakan hewan ternak yang sampai saat ini masih bertipe pemeliharaan pada hiasan atau kegemaran bagi para pecinta hewan. Kelinci bertipe tubuh kecil dengan bulu putih mulus, bertanduk cantik, terdapat kembangan antena pada hidung dan gigi tengah yang gingsul. Konsumsi kelinci sebagai hewan pedaging masih rendah disebabkan karena sebagian besar konsumen masih mengonsumsi daging sapi dan ayam sebagai pangan hewani paling utama. Padahal, tingkat produktivitas kelinci dalam menghasilkan daging lebih tinggi dibandingkan sapi dengan berat hidup 58% sebesar 400 lb (Sumarni dkk., 2015). Spesies Cuniculus ini memiliki kelebihan penggunaan protein tumbuhan yang efisien, reproduksi cepat, pertumbuhan cepat, tidak bersaing dengan manusia dan kandungan nutrisi cukup tinggi. Kelinci mencapai bobot pasar sekitar 2 kg pada umur 8 minggu dengan kecepatan hampir sama ayam broiler. Dalam setahun, kelinci beranak sebanyak 4 kali dengan sekali menghasilkan 6-8 ekor. Jenis kelinci kecil akan mencapai dewasa pada umur 5-6 bulan, sedangkan besar dewasa pada umur 6-8 bulan (Sunarwati, 2001).

        Kelinci mempunyai kemampuan hidup dalam habitat yang bervariasi, mulai dari padang pasir hingga daerah subtropis. Kelinci juga disebut remang-remang atau krespular karena lebih suka keluar dari lubang persembunyiannya pada sore menjelang malam dan pagi menjelang terbit. Kelinci memakan kotorannya sendiri (kopropagi) sebagai sumber protein (Khusnia, 2001). Kelinci yang diproduksi di Indonesia umumnya adalah hasil silangan atau impor dari Amerika dan Eropa. Kelinci dapat dikelompokkan berdasarkan tujuan pemeliharaan : Food, Fur, dan ganda (Awalia, 2016). Famili Leporidae memiliki delapan pasang gigi di rahang atas, tujuh pasang gigi di rahang bawah. Pada rahang atas terdapat dua pasang gigi seri yang tak  bertaring, tiga pasang geraham besar. Masing-masing gigi terbagi merata : 2 buah gigi seri, 3 buah geraham kecil, serta 3 buah geraham besar kiri dan kanan. Gigi seri rahang atas berjumlah 4 buah, hanya 2 buah yang tumbuh panjang dan seperti pahat. Tubuh pipih di samping membantu aktivitas berlari kencang dengan ukuran kaki depan lebih pendek, namun kaki belakang berjari empat dan depan berjari lima dilengkapi cakar kuat. Warna kelinci antara hitam, putih abu-abu dan cokelat dengan kesuburan tinggi dan seksual cepat matang. Jika umur sudah mencapai 3 bulan berkembang biak dalam masa hamil 40 hari melalui setiap pejantan dikawinkan 8-10 betina, jumlah anak/kelahiran sampai 7 ekor, disapih oleh induknya 6-8 minggu dan dapat dikawinkan kembali (Elit, 2018).

        Kromosom kelinci berjumlah 44 buah dengan umur hidup 5-10 tahun dan produktif pada 2-3 tahun berupa kemampuan beranak 10 kali/tahun. Bobot lahir kelinci antara 300 g/ekor dengan kedewasaan 5-10 kg/ekor. Lambung tunggal membesar unik di bagian sekum dan kolon yang berfungsi mirip rumen secara semu. Pemanfaatan protein yang efisien dapat menyerap ulang zat-zat makanan yang telah mengalami pencernaan awal oleh bakteri-bakteri sekum dan kolon yang menyintesis beberapa zat makanan, antara lain protein dan vitamin (Brahmantyo, 2008). Pakan kelinci mengandung serat kasar 20-23% pada hijauan dan 5-7% pada karbohidrat, protein serta lemak tinggi. Kelinci di Indonesia dikembangbiakkan dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut dan suhu udara sejuk antara 15-18oC. Temperatur yang ideal dalam kandang adalah 15-16oC (Tarmanto, 2009).

Gambar 1. Contoh Kelinci Hias yang Ditampilkan dalam Sebuah Fotografi (Sumber: Instagram Indonesia's Next Top Model 2021 Net TV.)

        Kelinci lokal adalah kelinci yang banyak dipelihara peternak dengan menghasilkan anakan dan pedaging. Anakan kelinci lokal cukup populer diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional ataupun wisata dataran tinggi. Kelinci dewasa yang sudah tidak berproduksi atau sakit akan dipotong sebagai pedaging. Hal ini disebabkan karena memiliki kadar protein tinggi dan lemak rendah jika dibandingkan ternak lain (Brahmantiyo dkk., 2014), begitu juga kolestrol sebesar 1,39 g/kg (Marhaeniyanto dan Susanti, 2015). Selain kaya akan protein, daging kelinci juga mengandung kadar asam amino tinggi, seperti lisin, treonin, leusin, fenilalanin dan sulfur (Putri, 2018). Karkas kelinci berumur kurang 12 minggu disebut FRYER dengan berat sekitar 50-59% bobot potong, sedangkan kelinci dari ternak yang lebih tua disebut ROASTER dengan berat sekitar 55-69% bobot potong. Daging kelinci mempunyai serat halus dan warna sedikit pucat, sehingga dapat dikelompokkan ke dalam golongan putih seperti halnya ayam. Karakteristik daging putih yaitu mempunyai kandungan lemak rendah dan glikogen tinggi dibandingkan daging merah (Suradi, 2005).

        Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80-an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini, jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada daerah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya psikologi manusia dengan kelinci dalam pemotongan dan angka kematian yang cukup tinggi. Daging kelinci banyak diperjualbelikan sebagai sate, gulai, nugget, sosis, dan abon. Ada pula yang mengus ahakan kelinci sebagai hiasan/kesayangan dengan produknya adalah anak-anak lepas sapih, bahkan sebelum sapih. Produk ini pemasarannya masih terbatas di daerah-daerah kunjungan wisata dengan volume yang berfluktuasi menurut hari-hari libur. Produk lain seperti kulit/fur masih terbatas pemanfaatannya sebagai cenderamata, seperti gantungan kunci, tas tangan wanita dan topi. Peternak hanya melakukan seleksi berpenampilan tanpa memperhatikan sistim perkawinan dalam kelompok ternak, sehingga banyak ditemui kelinci dengan produktivitas rendah (Budiharjo dkk., 2009).

        Karkas kelinci terbagi menjadi 4 potongan komersial, yaitu foreleg, rack, loin dan hindleg (Sagulu, 2013). 

Gambar 2. Gambaran Penampilan Karkas Kelinci (Brahmantiyo dkk., 2017).

Gambar 3. Penampilan Nyata Karkas Kelinci (Penelitian Sagulu, 2013)

Sulawesi Tenggara sangat membutuhkan usaha pengembangan kelinci bagi para pedagang toko hewan untuk membantu keberlangsungan sentra alternatif produksi daging sebagai protein hewani selain ayam dan sapi. Diharapkan agar penelitian tentang kelinci sebagai ternak dwiguna berupa daging dapat diaplikasikan untuk masyarakat melalui produksi genetika dan penampilan yang bersangkutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumpang Foto Terpenting

 Mohon izin menumpang foto ya !!!!

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Istilah Industri 4.0 sendiri secara resmi lahir di Jerman tepatnya saat diadakan Hannover Fair pada tahun 2011. Negara Jerman memiliki kepentingan yang besar terkait hal ini karena Industri 4.0 menjadi bagian dari kebijakan rencana pembangunannya yang disebut High-Tech Strategy 2020 . Kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan Jerman agar selalu menjadi yang terdepan dalam dunia manufaktur. Beberapa negara lain juga turut serta dalam mewujudkan konsep Industri 4.0, namun menggunakan istilah yang berbeda seperti Smart Factories , Industrial Internet of Things , Smart Industry atau Advanced Manufacturing . Industri 4.0 adalah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri meliputi manufaktur dan logistik serta proses lainnya. CPS adalah teknologi untuk menggabungkan antara dunia nyata dengan dunia maya. Penggabungan ini dapat terwujud melalui integrasi antara proses fisik dan komputasi (teknologi embed...